RAWALO — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian pesat membawa peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi dunia akademis. Menjawab dinamika tersebut, dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Dr. H. Mokhamad Sukron, Lc., M.Hum., hadir sebagai narasumber utama dalam agenda Stadium General yang diselenggarakan di STIQ Miftahul Huda Rawalo, Banyumas, pada Senin (14/9/2026).
Menghidupkan Nalar Kritis di Era Otomasi Pengetahuan
Mengusung tema “Menghidupkan Nalar Kritis dan Skeptisisme Ilmiah di Tengah Otomasi Pengetahuan”, kegiatan ini diikuti secara antusias oleh civitas akademika, peneliti, dan mahasiswa. Dalam pemaparannya, Dr. Mokhamad Sukron menekankan bahwa kemudahan akses informasi akibat lompatan teknologi AI tidak boleh sampai menumpulkan daya kritis mahasiswa dan akademisi dalam memproduksi pengetahuan.

"Otomasi pengetahuan melalui kecerdasan buatan memang menawarkan efisiensi tinggi, namun ada risiko besar ketika manusia menerima mentah-mentah luaran (output) teknologi tanpa melalui proses verifikasi dan skeptisisme ilmiah yang ketat," ujar Dr. Sukron di hadapan para peserta. Beliau menambahkan bahwa tradisi intelektual Islam sejak era klasik selalu menjunjung tinggi sanad dan keshahihan data, sebuah prinsip yang sangat relevan untuk diterapkan di era digital saat ini.
Pilar Utama Skeptisisme Ilmiah dalam Menghadapi AI
Lebih lanjut, pakar akademisi dari Fakultas Syariah UIN Saizu tersebut memaparkan tiga pilar utama yang harus dipegang teguh oleh generasi muda dan civitas akademika modern:
- Skeptisisme Konstruktif: Sikap tidak mudah percaya pada informasi serba instan dari algoritma AI sebelum melakukan cek silang (cross-check) ke sumber-sumber primer yang otoritatif.
- Penguatan Metodologi Riset: Menggunakan instrumen epistemologi yang valid dalam mengolah data agar analisis akademis yang dihasilkan tetap memiliki keabsahan dan kedalaman ilmiah.
- Integritas dan Etika Akademik: Menjaga keaslian karya tulis ilmiah dengan memanfaatkan teknologi sebatas alat bantu verifikasi, bukan pengganti proses berpikir kritis manusia.

Sinergi Akademis dan Kolaborasi Antarlembaga
Kehadiran dosen Fakultas Syariah UIN Saizu Purwokerto dalam forum ilmiah ini sekaligus menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam memperluas jangkauan kontribusi keilmuan kepada masyarakat luas serta lembaga pendidikan keagamaan di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Pihak STIQ Miftahul Huda Rawalo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesediaan dan pencerahan yang disampaikan oleh narasumber.
Kesimpulan dan Penutup
Acara Stadium General ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang hangat, di mana para mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan seputar dilema etis penggunaan AI dalam tugas-tugas perkuliahan serta penulisan karya ilmiah. Melalui kegiatan kolaboratif ini, diharapkan mahasiswa mampu tumbuh menjadi intelektual yang tangguh, adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berpegang teguh pada prinsip nalar kritis ilmiah. Bagaimana pandangan Anda mengenai tantangan penggunaan AI di dunia akademik saat ini? Mari bagikan pemikiran Anda di kolom komentar!
Klik tombol 📢 Posting ke Saluran WA di atas ➔ teks berita otomatis tersalin dan Saluran Anda langsung terbuka di tab baru ➔ tekan Ctrl + V (Tempel/Paste) pada kolom pesan saluran lalu tekan Kirim.